RAIHANUM Part 1 "Gagang Cangkul di Vagina"
Karya/Sumber : shry_hartaty/ kbm.id
Genre : Cerita Horor
"Jangan ... aku mohon," melas Raihanum ketika melihat seorang laki-laki bersiap merenggut kehormatannnya sedangkan yang lainnya memegangi tangan dan kaki. Namun, setan seakan telah merasuki ke lima pemuda itu. Mereka tidak peduli dengan ratapan Raihanum. Dengan beringas dan tanpa belas kasih mereka berhasil merenggut kesucian yang selama ini dijaga Raihanum.
"Aku bersumpah akan kubalas perbuatan kalian lebih kejam. Akan kukejar kalian hingga ke ujung neraka sekalipun," ujar Raihanum seraya mencengkram tanah dengan kuat ketika dia merasakan sakit yang luar biasa di bagian organ kewanitaannya. Seketika pandangannya gelap.
**********
Raihanum, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh sang Nenek-Rahayu sejak umur 7 tahun itu menatap nanar botol-botol jamu dalam bakulnya yang masih penuh. Sejak pagi ia telah keliling kampung, tetapi sepertinya hari ini keberuntungan tidak berpihak kepadanya. Gadis 18 tahun itu menitikkan air mata membayangkan raut wajah kesedihan Neneknya jika dia pulang tanpa membawa uang sepeser pun.
"Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Semangat Hanum ini masih siang, jamumu pasti hari ini habis terjual seperti biasanya," gumam Hanum berusaha menyemangati dirinya.
Dengan langkah penuh semangat, terik matahari tidak dipedulikannya, Hanum terus bersuara lantang, meneriakkan jualan jamunya agar warga mendengar dan membeli jamu.
Senyum di bibirnya tersungging ketika satu persatu warga ada yang membeli jamunya. "Alhamdulillah," lirih Hanum ketika melihat isi botol jamunya separuh.
Azan salat Asar berkumandang, wajah Raihanum sedih karena botol-botol jamunya masih tersisa separuhnya.
"Lebih baik aku pulang, Mbah Yu pasti khawatir. Lagi pula perutku sudah lapar. Mbah Yu pasti senang hari ini aku dapat uang walau tidak banyak dari hari kemarin. Maafkan Hanum yang belum bisa membuat Mbah bahagia," gumam Raihanum.
Raihanum berjalan dengan hati-hati ketika melewati jalan setapak yang bersisian dengan kebun singkong. Langkahnya terhenti ketika dua pemuda memanggil namanya.
"Jamunya masih, Num?" tanya salah satu pemuda.
"Masih, Mas."
"Saya mau jamunya, Num." Raihanum mengangguk lalu menurunkan bakul jamunya.
"Kami mau minum jamunya di sana aja, Num. Teman-teman yang lain juga pada mau minum jamumu."
"Di mana, Mas?" tanya Raihanum yang perasaannya mulai gelisah.
"Di saung pinggir kebun sebelah sana, Num," tunjuk salah satu pemuda.
"Kamu tahu kan saung itu, Num. Bukankah kamu dan sahabatmu selalu duduk di sana jika sore hari," timpal pemuda satunya.
"Iya, Mas. Hanum tahu."
Raihanum kembali menggendong bakul jamunya lalu mengikuti langkah dua laki-laki di depannya. Pikirannya terbagi antara takut dan senang. Takut jika dua pemuda itu hanya mengerjainya saja, senang karena jamunya bakal habis terjual.
'Ternyata mereka tidak bohong jika memang ada teman-temannya di saung,' batin Raihanum ketika melihat tiga pemuda duduk di saung.
Raihanum segera menyiapkan lima gelas jamu untuk pembelinya.
"Buatkan aku jamu yang bisa bikin badan segar ya, Num. Biar hilang rasa pegal-pegal di badanku."
"Aku juga ya, Num," timpal yang lainnya.
Raihanum tersenyum melihat jamu-jamunya telah habis. Ia lalu membereskan gelas-gelas kotor dan dimasukkan ke dalam ember kecil.
"Kamu mau kemana, Num? Duduk di sini sebentar, kita ngobrol."
"Iya, Num. Kami masih ingin bersamamu," timpal yang lain sembari mencolek dagu Raihanum.
"Jangan kurang ajar, Mas!" Sungut Raihanum. Cepat dia mengikat bakul jamunya dengan kain lalu siap pergi dari tempat itu. Perasaannya mulai tidak tenang.
"Mau kemana, Num?" Dua laki-laki menghadang Raihanum.
"Aku mau pulang. Minggir. Jangan menghalangi jalanku."
"Galak banget kamu, Num."
"Ayo kita eksekusi dia sekarang. Aku sudah tidak sabar ingin menikmati tubuh indahnya."
"Jangan macam-macam kalian," ucap Raihanum dengan keras ketika dua pemuda berusaha memegang kedua tangannya sedangkan yang lain berusaha melepas bakul jamu.
Prang
Bakul jamu Raihanum dibuang kasar hingga botol-botol itu pecah.
"Keterlaluan kalian." Raihanum mendekati botol jamunya dengan deraian air mata. Ia sedih memikirkan bagaimana bisa berjualan jamu lagi jika botol-botol itu pecah.
Raihanum tersentak ketika salah satu pemuda memeluknya dari belakang, sontak ia mengambil botol yang belum pecah.
"Argh!" teriak salah satu laki-laki itu ketika kepalanya dipukul Raihanum menggunakan botol jamunya.
"Kamu akan menyesal sudah menyakitiku, Hanum."
Raihanum terjerembab ke tanah ketika laki-laki itu mendorong tubuh gadis yang dikenal warga periang, ramah dan suka menolong siapapun. Melihat Raihanum jatuh, sigap yang lainnya menginjak tangannya.
"Tolong! Tolong! Tolong!" Raihanum berteriak berharap warga atau para tukang kebun mendengar teriakannya. Namun, suasana yang sepi tidak ada yang mendengar teriakkannya. Raihanum seakan lupa jika hari mulai sore tidak ada lagi yang berkebun.
Tawa menggelegar bersahutan ketika mendengar Raihanum berteriak minta tolong.
"Teriak saja, Num. Percuma, tidak akan ada yang mendengar teriakkanmu."
Mereka mulai membuka paksa pakaian Raihanum hingga sobek. Raihanum berusaha memberontak, tetapi tenaganya Kalah telak dibanding lima laki-laki dihadapannya. Mereka menghajar Raihanum dengan menampar, menginjak perut bahkan ada yang membuka paksa hijab yang dikenakan Hanum kemudian menjambak hingga membuat gadis malang itu tak berdaya. Air mata mengalir membasahi pipinya, bayangan akan hancurnya masa depan dan terpuruknya sang nenek jika mengetahui keadaan dirinya.
"Jangan ... aku mohon," melas Raihanum ketika melihat seorang laki-laki bersiap merenggut kehormatannnya sedangkan yang lainnya memegangi tangan dan kaki. Namun, setan seakan telah merasuki ke lima pemuda itu. Mereka tidak peduli dengan ratapan Raihanum. Dengan beringas dan tanpa belas kasih mereka berhasil merenggut kesucian yang selama ini dijaga Raihanum.
"Aku akan membalas apa yang telah kalian lakukan padaku," lirih Raihanum dengan tatapan penuh kebencian.
Raihanum meringis menahan sakit ketika salah satu dari laki-laki itu menjambak rambutnya.
"Perempuan lemah sepertimu tidak akan sanggup melawan kami," ucapnya seraya menghentakkan tarikan di rambut Raihanum.
"Akan kubuktikan ucapanku, walau ke ujung neraka sekalipun akan kukejar kalian."
Bugh!
Cuih!
Pemuda yang lainnya menginjak kepala Raihanum dan meludahi wajah gadis yang nyawanya seakan mau terlepas dari raga.
Raihanum merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya hingga pandangannya mulai buram. Matanya nanar, ia menggeleng, air mata kekecewaan mengalir membasahi pipi ketika melihat dua sosok dihadapannya. Satu sosok merenggut kesucian yang telah dirampas, yang satunya menyeringai sembari tersenyum sinis.
"Aku bersumpah akan kubalas perbuatan kalian lebih kejam. Akan kukejar kalian hingga ke ujung neraka sekalipun," ujar Raihanum seraya mencengkram tanah dengan kuat ketika dia merasakan sakit yang luar biasa di bagian organ kewanitaannya. Seketika pandangannya gelap.
*******
Rahayu mondar-mandir di teras rumahnya yang berlantai tanah. Ia sangat khawatir cucunya belum juga pulang. Kekhawatirannya bertambah ketika langit mulai gelap, pertanda hujan akan turun dengan deras.
"Kenapa kamu belum pulang, Nduk? Mbah khawatir." Rahayu menatap jalan berharap cucunya pulang.
Rahayu masuk kembali ke dalam rumah menyiapkan makanan kesukaan Rahayu yakni tumis kangkung, ikan asin dan sambal terasi.
"Kamu pasti lapar, Nduk. Mbah tahu kamu belum pulang pasti jamumu belum habis, padahal Mbah selalu bilang pulang saja sebelum Zuhur. Masih atau tidak jamumu," gerutu Rahayu sambil menyiapkan makanan untuk Raihanum.
Samar telinga Rahayu mendengar suara tangisan. "Suara tangisan itu kok mirip Hanum. Apa dia sudah pulang," gumam Rahayu.
Rahayu gegas menuju pintu utama, tetapi langkahnya terhenti di depan kamar Raihanum. Dengan perasaan cemas ia membuka tirai yang menutupi kamar cucunya. Kamar Raihanum memang tidak terdapat pintu hanya tirai.
Mata Rahayu nanar, air matanya seketika mengalir tanpa ia sadari ketika melihat cucunya menunduk, menenggelamkan wajahnya sambil memeluk lutut. Bahunya berguncang, pertanda ia menangis terisak.
"Kapan kamu pulang, Nduk? Kenapa kamu menangis?" Rahayu mendekati cucunya lalu membelai kepala Raihanum yang tertutup hijab. Raihanum bergeming hanya isakkan tangis yang terdengar menyayat hati.
"Jualanmu gak habis ya, Nduk. Jangan menangis. Hari ini bukan rezekimu. Bersyukurlah seberapapun yang diberikan Allah."
Lagi, Raihanum bergeming.
"Mbah sudah menyiapkan makanan kesukaanmu, Nduk. Ayo kita makan! Kamu pasti sudah lapar, Mbah juga lapar. Mbah buatkan teh hangat dulu."
Rahayu beranjak keluar dari kamar cucunya. Ia mengerti dan memberikan waktu untuk Raihanum mengeluarkan perasaan kecewanya. Baru saja kakinya hendak melangkah menuju dapur, suara gedoran pintu membuatnya terkejut.
"Iya sebentar!" teriak Rahayu sembari melangkah membukakan pintu.
"Ada apa, Gayatri?" tanya Rahayu pada tamunya.
"Hanum, Mbah. Hanum," ucapnya dengan napas tersengal-sengal.
"Kenapa dengan Hanum? Apa kalian bertengkar?"
Gayatri menggeleng.
"Kenapa kamu menangis, Tri? Jadi benar kalian bertengkar."
Rahayu berpikir jika cucunya dan Gayatri bertengkar karena melihat mereka sama-sama menangis.
"Ha ... Hanum ... Hanum meninggal, Mbah," ucap Gayatri dengan terbata. Tangisnya semakin pecah ketika mengatakan jika sahabatnya meninggal.
Rahayu terkekeh lalu menoyor kepala Gayatri. "Ngawur kamu, Tri. Hanum ada di kamarnya."
Gayatri melongo mendengar ucapan Rahayu lalu menggeleng.
"Aku bicara fakta, Mbah. Warga menemukan Hanum meninggal di kebun singkong."
"Sudahlah lebih baik kamu pulang, sudah mau Maghrib. Sebentar lagi juga mau hujan."
"Percaya sama aku, Mbah."
Rahayu mulai merasa janggal karena melihat wajah Gayatri yang serius, dari matanya tidak menunjukkan kebohongan. Namun, dia berpikir bukankah Raihanum ada di kamarnya. Rahayu menarik tangan Gayatri dan mengajaknya ke kamar cucunya. Matanya terbelalak melihat Raihanum tidak ada di kamarnya. Gegas Rahayu menuju dapur, tetapi cucunya juga tidak ada.
"Apa Mbah sudah percaya dengan ucapanku?"
Tubuh renta Rahayu gemetaran mengingat ucapan Gayatri yang mengatakan Raihanum meninggal.
"Kamu tidak bohong kan, Tri." Gayatri mengangguk.
Rahayu terduduk sambil memegang dadanya membuat Gayatri terkejut dan cemas.
"Mbah gak apa-apa?"
"Antarkan Mbah ke tempat Hanum. Mbah ingin membuktikan jika cucuku tidak meninggal. Hanum tidak boleh meninggalkanku sendirian."
"Iya, Mbah."
Hujan gerimis mulai turun, suara petir bersahutan ketika Rahayu dan Gayatri menuju kebun singkong. Tanpa alas kaki, Rahayu berjalan dengan perasaan kalut. Sesampai di kebun sudah banyak warga yang berkerumun. Mereka menatap kedatangan Rahayu dengan wajah sedih.
"Minggir, minggir. Beri jalan untuk Mbah Yu," ujar salah satu warga.
Hati Rahayu nelangsa melihat sosok yang terbaring di tanah dengan di tutupi daun pisang. Dia berjongkok, dengan tangan gemetar Rahayu membuka penutup itu.
"Hanum!" teriak Rahayu ketika melihat wajah jasad yang terbujur kaku itu memang cucunya yang meninggal dengan cara tragis.
Seketika tubuh Rahayu lemas hingga tersungkur di tanah melihat gagang cangkul di organ kewanitaan Raihanum.

Post a Comment